Jumat, 30 Mei 2014

YANG TERSEMBUNYI DIBALIK IDENTITAS ORANG RIMBO




YANG TERSEMBUNYI DIBALIK IDENTITAS ORANG RIMBO
By Govar Arian Laleno IAIN Sultan Amai Gorontalo
Abstract
Rimbo people identity, a massage code of a self image of a community in Jambi’s jungle in Taman Nasional Bukit 12. They become an etnic who choose to life in jungle as their habitat. “Beratap cikai, berdinding banai, bertikar gambut, berayam kuwau, berkambing kijang, bersapi rusa[1].(Cikai is our roof, banai is our wall, land is our floor, kuwau is our chiken, anthelope is our goat, and deer is our cow). Areas of Rimbo people are,”Pangkal wari Tanah Garo, ujung waris Tanah Serengam, Air Hitam Tanah berjenag” (Garo Land as the first heritance, Serengam Land as the last one and Air Hitam as land of Jenang[2]). Those places are known as rimbo people area from long time ago. Special right for Rimbo people to stay in di Taman Nasional bukit 12 has risen groups who take chance for their own interest. Discourse about rimbo people identity in this report describe its mytology, teology, and ideology.

Keywords: rimbo people, mythologi, theology and ideologi,

               Di pinggir-pinggir jalan, tempat bus-bus berhenti di Margoyoso, Jambi, orang rimbo menjual barang-barang exotic seperti mani gajah, penis buaya, sarang burung cinta kasih dan kulit harimau yang dikenal berguna untuk memelet dan memudahkan naik pangkat. Bagi orang yang tahu, tentunya merasa geli dengan orang-orang kota yang mau dikelabui orang-orang rimbo. Kalau mau menulusuri ke tempat mangkal mereka, sebenarnya mani gajah itu palsu, karena gajah sudah sangat langka di bukit 30, cara mengambilnya harus menunggu gajah tersebut saat mating. Sangat tidak masuk akal jika harus membedah gajah terlebih dahulu. Penis buaya hanya penis rusa yang ditusuk-tusuk jarum agar berkesan bergerigi lalu dikeringkan. Sarang burung cinta kasih sudah sangat sulit didapat, dan kulit harimau adalah kulit kijang yang mereka cat sedemikian rupa sehingga mirip kulit harimau.  Namun kepalsuan barang tersebut tidaklah penting, yang menarik adalah keyakinan orang kota terhadap khasiat dari barang barang tersebut. Pak Robert[3] berseloroh ingin membeli mani gajah untuk memelet salah seorang wanita yang saat ikut menonton pertujukan orang rimba yang berjualan. Sontak wanita ini ketakutan dan lari menuju bis yang membawanya dan tidak mau turun-turun lagi. Wanita tersebut sangat takut akan khasiat magis dari barang-barangnya orang rimba. Untuk mengetahui lebih dalam, rekan saya Ahmad Syarifin dari STAI Al-Ikhlas Padang akan mengelaborasi topik tentang barang-barang seni orang rimba dalam usaha mereka memanfaatkan sumber daya alam.
Peristiwa lainnya adalah tentang Depati Terap yang bernama Ngelambu mendapati motornya melewati daerah operasi tilang di Sarolangun. Ketika diberitahu STNK motornya sudah mati, Depati mendekati motor dan menghidupakannya, lalu mengasnya untuk meyakinkan polisi bahwa motornya masih bisa hidup, lalu menjawab,”STNK saya masih hidup ko pak”. Polisi merasa heran dan bertanya kalau Depati ini dari mana. Lalu dijawab kalau dia masyarakat Bukit 12. Pak polisi menanyakan mengapa dia tidak memakai helm. Depati menjawab kalau “Saya tahu soal helm tu, tapi saya jadi pusing kepala kalau pakai helm tu.” Polisi yang merasa tindakannya sebagai sebuah perlawanan, meminta motornya untuk dibawa ke kantor polisi. Depati menjawab, ”Boleh bepak bawa motor saya ke kantor polisi. Tapi kalau dalam dua hari motor saya tidak dikembalikan ke Bukit 12, saya akan bawa masyarakat galo dari Bukit 12 untuk datang ke kantor polisi.” Pak polisi saat itu sadar kalau dia akan mengalami masalah jika berurusan dengan orang rimba, lalu mempersilahkan Depati untuk melanjutkan perjalanan.[4]
Begitulah, penggunaan identitas orang rimba umumnya didasarkan pada suatu konsep magis serta kebal hukum peraturan lalu lintas. Sudah sejak jaman Tumenggung Kayo identitas orang rimba menjadi isu yang cukup sensitif bagi pemerintahan Jambi, mengingat perlindungan mereka terhadap Raja Sultan Taha Saifudin ketika dikejar-kejar Belanda pada jaman penjajahan. Mereka membungkus tubuh Sultan dalam kain goni yang digotong satu rombongan orang rimba yang berperan membawa karung berisi bibit tanaman untuk menyelamatkan nyawa Sultan. Jasa mereka menjadi sejarah yang fenomenal dikalangan sejarawan Jambi.
Namun jika merujuk pada data LSM WASRI, gejala yang mencengangkan adalah sudah 14 orang rimba mati dikeroyok orang dusun karena hal-hal sepele, seperti memanjat rambutan orang dusun, mengambil buah nangka, mencabut ubi kayu atau adu mulut antar dua komunitas tersebut[5]. Sumber-sumber koflik telah bertumpuk sejak lama seperti adanya perebutan sumber daya yang terbatas, ambiguitas yuridiksi, perilaku tidak manusiawi, pribadi yang negatif, komunikasi yang tidak baik dan sistem imbal yang tidak layak yang, serta ideologi yang berbeda[6]. Bagaikan bensin yang sudah disiramkan dan menunggu api kecil dari pemantik yang bisa dijentikkan siapa pun.
Orang rimbo merasa bahwa para transmigran merampas tanah mereka, sebaliknya orang rimbo dituduh maling pohon-pohon secara berulang. Sementara orang rimbo memahami bahwa batang pohon adalah milik penanam, sedangkan buahnya bisa diambil siapa pun yang membutuhkannya. Ketika diajak bicara tentang semakin sempitnya hutan sebagai ruang hidup mereka, orang rimba merasa mereka mau mati saja[7].
Keluguan sekaligus kekebalan hukum orang rimba di jalan raya dan hukum adat yang mengikat orang luar di wilayah orang rimba, norma-norma adat yang mengikat orang rimba dimana pun mereka, cukup menjadi topik menarik yang akan dielaborasi oleh rekan Mohammad Sohibul Itmam dari STAIN Ponorogo dan Syukron Makmun dari STAI Indramayu.
Dalam tulisan ini, secara global, identitas orang rimbo akan dicoba untuk dikaji dengan pengkategorian secara arkeologis dari mitologi, teologi hingga ideologi, di mana ketiga kategori arkeologis ini, pada akhirnya, secara tidak langsung mewakili identitas orang rimbo yang berubah mengikuti arus jaman zaman, karena kelemahan mereka akan informasi sejarah asal mula diri mereka.
DR. Abdul Azhim Mahmud Al-Dayb mennulis bahwa, “Sejarah adalah ingatan suatu bangsa dan juga ingatan perorangan. Dengan sejarah, mereka mengetahui masa lalu, manafsirka masa kini, dan merancang masa depan mereka. Orang yang hilang ingatan akan kembali menjadi anak kecil, tak menyadari apa pun di sekitarnya, tak mampu memikirkan dirinya sendiri, merasakan harinya, atau merancanakan masa depannya. Begitu juga suatu bangsa yang kehilangan sejarahnya dan tak diingat generasi-generasi penerusnya. Saat itu, bangsa tersebut akan tersesat dan menerima siapa pun yang menuntun mereka.”[8]
Di Seputar Permasalahan Identitas Orang Rimbo dan Pengertiannya
Beberapa penyebutan identitas komunitas di rimba Jambi yakni Suku Anak Dalam (SAD), Komunitas Adat Terpencil, Kubu dan Orang Rimbo (Rimba). Setiap nama ini memiliki makna politik. Istilah SAD ttelah ada pada 1970-an. Karena menurut data pemerintah provinsi ada beberapa suku di provinsi Jambi yang hidup di pedalaman yang sulit dijangkau—adapun Suku Batin memiliki ras, bahasa, keyakinan, ritual yang berbeda, namun orang Jambi dan Palembang menyebut mereka orang Kubu, dan pemerintah propinsi menyebut mereka SAD. Departemen Sosial RI setelah reformasi, terjadi perkembangan gerakan sosial masyarakat adat, sehingga nama SAD disesuakan menjadi “komunitas adat terpencil”. Lagi-lagi diberikan nama terpencil, padahal sekarang ini lokasi sudung mereka terkadang hanya berjarak ratusan meter saja dari tempat tinggal orang dusun. Orang Jambi dan Pelembang menyebut masyarakat pedalaman dengan sebutan Kubu. Karena ada perang, mereka masuk ke dalam hutan untuk berlindung dan bertahan. Tahun 1800-an tulisan Walter Zister, William Mastein, dan yang terbaru yaitu Steven Seager menggunakan istilah Kubu. Adapun Prof. Muntolib memakai sebuatan orang rimbo dalam disertasinya tahun 1984. Berkaitan dengan penamaan orang rimbo, Robert dari WARSI mengatakan,”Orang rimbo adalah sebutan penghormatan atas penamaan mereka atas mereka sendiri ketika mereka ditanyakan kalau mereka menyebut diri mereka orang apa.”
Majhab penelitian yang dipakai adalah traditionalism, penganutan atau penerimaan tradisi orang rimba tanpa memberikan penilaian. Menggunakan action theory, yakni teori yang bertujuan untuk memahami orang rimba melalui analisa terhadap aksi sosial dalam kehidupan mereka.

Mitologi Orang Rimba
               Myth artinya, 1)cerita keramat, 2) ide-ide yang menjamin kepatuhan terhadap suatu kepemimpinan, atau 3) dogma yang singkat. Mythology artinya perangkat mitos yang ditemukan dalam suatu masyarakat[9]. Asal Ususl Orang Rimbo berasal dari Buah Kelompang, yang dahulu seorang laki-laki perantau dari Minang Kabau tidak kunjung mendapatkan pasangan. Dia berdoa kepada Alloh agar segera diberi jodoh. Malamnya dia bermimpi disuruh mengambil buah Kelumpang dan membungkusnya dengan kain putih. Ketika bangun dan mengerjakan pesan mimpi tersebut terjelmalah seorang gadis cantik yang mengajaknya menikah. Lahirlah empat orang anak yaitu Bujang Malapangi dan Putri Selaro Pinang Masak yang menjadi penghuni dusun dan menjadi orang Islam. Sementara Bujang Dewo dan Putri Gading menetap di hutan menjadi Orang Rimba[10].
               Perpisahan keduanya melahirkan sumpah dari Bujang Malapangi kepada adiknya yaitu “Kena Kutuk ayam pertuanan, keno sumpah seluruh Jambi.” (artinya akan dimarahi semua orang Jambi. Lalu bilas dengan Sumpah Bujang Dewo kepada kakaknya, yakni, “Di air ditangkap buayo, di darat ditangkap harimau kumbang, ditimpo kayu punggur, ke atas dikutuk pisau kawi, ke bawah kena masrum Kalimah Alloh, diarak kebangiang, ditimpo langit berbelang, ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berurat, berpandang pinang, berpaang kelapo, dislamkan, rapat diluar rencong di dalam besuruk budi bertanam akal, berdaging duo, bergantang duo, bercupak duo.” (artinya orang dusun adalah orang yang kemanapun akan mendapat celaka, ke air dimakan buaya, ke darat dimakan harimau, ditimpa kayu punggur, dikutuk senjata keramat, terkena laknat kalimah Alloh, selalu diikuti setan, tertimpa langit di sore hari, tidak punya atasan dan tidak punya bawahan, menanam pinang, kelapa, diislamkan, baik luarnya busuk dalamnya, tidak berbudi, dan mengakali orang, berpedoman duadan tak berpendirian tetap/munafik. Setelah bersumpah Bujang Malapangi menerkam pungko ubi serta menggenggam ekor kerbau, dan Bujang Dewo menerkam pungko gadung dan menggenggam ekor biawak[11].
               Dari mitos khas tentang asal muasal orang Rimbo ini berpengaruh kepada tindakan mereka kepada mayat orang rimba. Orang luar adalah anak cucu Adam yang berasal dari tanah maka dimakamkan di dalam tanah. Lain dengan orang rimba, anak cucu Adam yang berasal dari buah kelompang yang berada di atas tanah dan dibungkus kain putih, maka tempat pemakamannya adalah Tanoh Pasoron. Tanah ini adalah tempat mayat orang rimba diletakkan dengan dibungkus kain berlapis-lapis di dalam sebuah sesudungon[12] khusus yang dibuat tinggi di atas tanah—ketiggian sesudungon disesuaikan dengan keinginan keluarga yang ditinggal. Waktu pembuatan tanah pasoron tidak boleh lebih dari satu hari. Jumlah lapisan kain disesuaikan dengan kekayaan keluarga si mayit. Semakin kaya, semakin banyak kain lapisannya. Tempatnya sangat jauh di dalam rimba, namun mereka akan meninggalkan tanda dengan menanam pohon tertentu, sehingga jika keluarga ingin datang kembali ke tempat pemakaman akan menemukan tanda tersebut. Setelah memakamkan di tanah pasoron, rombong[13] orang rimbo melangun[14] ke tempat lain untuk menghilangkan rasa sedih yang mendalam.
               Untuk mempelajari dongeng-dongeng yang dijadikan mitos bagi orang-orang rimba dan seloko-seloko mereka, telah dielaborasikan lebih mendalam oleh Japarudin dari IAIN Bengkulu dan Ahmad Muzaki dari STAIN Metro Lampung. Tulisan mereka akan mendeskripsikan hubungan mitos dan seloko-seloko orang rimba dengan adat istiadat yang dipakai orang rimba sampai sekarang.

Teologi Orang Rimba
               Orang Rimbo adalah anak cucu Nabi Adam. Nabi yang mengamalkan lima waktu sholat dan senantiasa berdoa untuk diberi pasangan. Siti Hawa pun di berikan Alloh untuk Nabi Adam. Ketika Nabi memanggilnya, Hawa tidak mau datang, dan menyuruh Nabi untuk datang sendiri padanya, karena Adam yang memerlukannya. Pernikahan mereka diawali dengan memberikan qurban berupa daging babi dan seikat padi kepada Alloh. Setelah dikurbankan, bulir-bulir padi dijadikan bibit untuk membuat ladang padi, sementara daging babi ditanam di bawah pohon Jelemu. Setelah itu pohon tersebut mengandung banyak sarang lebah madu. Telur-telur lebah itu diyakini sebagai anak-anak babi, yang mana manisnya madu ini menjadi halal. Pernikahan Adam dan Hawa ini lahir bayi-bayi kebar dalam setiap kelahirannya. Setiap pasangan bayi ada yang masing-masing berkulit putih, juga kuning atau hitam. Nabi Adam menikahkan mereka dengan cara silang. Namun tidak semua anak kembar mentaati yang diaturkan ayahnya. Sehingga perkawinan antara pasangan kembar telah terjadi. Lahirlah bangsa kulit putih bule, kulit hitam dan kulit kuning. Sementara anak-anak yang taat melahirkan bangsa berkulit coklat hasil persilangan warna nenek moyang—contohnya orang-orang rimba Jambi ini. Nabi Adam adalah Nabi orang rimba. Nabi orang Islam adalah Nabi Muhammad. Nabi yang membuat kandang binatang, seperti ayam, kerbau, sapi dan kambing. Semua yang ada dikandang Nabi Muhammad adalah halal untuk orang Islam namun haram untuk orang rimba. Dulu Nabi Adam menghalalkan semua daging, termasuk babi. Kalau orang Islam merasa sangat kasihan melihat babi dimakan oleh kami[15]. Begitu juga orang rimbo merasa kasihan melihat binatang peliharaan dimakan orang terang (Islam). Rasanya seperti memakan anak sendiri.[16]
               Lebah madu dan pohon tempat bersarangnya memiliki peran sakral dalam kehidupan orang rimba. Ritual dalam melaksanakan melato sialong[17] atau lebih dikenal dengan istilah merapah yang dilakukan dalam satu musim buah sekali. Seorang piawang[18] sebelum merapah di malam hari, pada siang harinya hanya boleh makan nasi dan ikan sungai yang direbus dalam air bercampur garam saja. Selain makanan itu adalah pantangan baginya sebelum merapah. Juga tidak boleh melakukan hubugan intim dengan istri sebelumnya. Merapah hanya bisa dilakukan di malam hari kolom (bulan gelap)[19].
               Tidak boleh menebang, membunuh atau melukai pohon sialong. Pebuatan lantak dari kayu tengeris yang ditancapkan dengan pukulan gegandin kepada batang pohon sialong dilakukan dengan doa-doa sebelumnya. Ketika menaikinya sang piawang biasanya mendapat restu dan doa tumenggung sebelum memanjat titian. Mangku Adat bawahan Tumenggung Nggrip membacakan doa-doa berkaitan dengan proses merapah. Kedua doa sebagainya adalah berikut: (dituliskan oleh Japarudin[20])

Doa-doa pohon sialong[21]
Mantera memasang lantak (tangga dari pasak kayu tegeris)
Tuluu....nglah kundaa...ng bedindak ndak tanggo..
Oo....hooii... tanggo telepak di awang-awaa..ng
Oo....hooii... tanggo meninggang kerumoh
La bandung idak naik serumah tughun seghumah 
Idak tedendan oleh sughang laaii...
Pukul idaklah tepukul batang capo
Oo....hooii...lantak idak telantak batang jelemu..
Oo....hooii...antak-antak kito la betemu jin betemu
Jangan banyak tegur sapo laii..hi..
Salaaamikuuum dan jambaang
Oo....hooii...dan jambang bagi kulalu
Oo....hooii...ndak lalu kebalai, ndak panjang belah tegantung ndawang
Mawang la melupo lamo  tinggal betiang satu la bekeliling laii..hi..
Laa..secerii..k gulung la sekawan
Oo....hooii...nempuh diri pematang gadung
Oo....hooii... siapo adik ngato la piawang main siko perang agung laii...hi
Laa.. menyalaa..k  anjii..ng sekumbat
Oo....hooii...nyalak babi tujuh sekawan
Oo....hooii...sepantun sunting dipuput
La ribut gunung tujuh sudah kelampauaa..n laii..hi

Kalau kita sudah menyebut bait terakhir La ribut gunung tujuh sudah kelampauaa..n laii..hi maka selesai sudah kita memasang Lantak sampai ke atas. Ketika kita akan menaiki pohon untuk mengambil madu jangan langsung naik, harus memindahkan dulu dewa-dewa dari pohon sialong ke pohon lain, untuk dikembalikan nanti setelah merapah selesai. Jika tidak dilakukan, bisa celaka, jatuh atau tali kusut dan berbeli. Doa yang dibaca saat akan naik adalah sebagai berikut:

Bismilahirahmanirahima, Bismilahirahmanirahima
Ditemeruk semerayo datang api
Simang makam bukan beyuto punyo rumpun aku punyo rumpun
Bukan beyuto punyo bangka, aku punyo bangka
Bukan beyuto punyo mendalo aku punyo mendalo
Bukan beyuto punya batang, aku punya batang
Bukan beyuto punyo bungkul aku punyo bungkul
Bukan beyuto punyo dan aku punyo dam
Bukan beyuto punya ranting, aku punyo ranting
Bukan beyuto punya buah, aku punyo buah
Bukan beyuto punya daun aku punyo daun
Bukan beyuto punya tali kelat, aku punyo tali kelap
Bukan beyuto punya sangka lidi, aku punyo sangka lidi
Beyuto nyenyak, beyuto bisu, beyuto lumpuh,
Jumalang abang, jumalang kuning
Bawak sesak, bawak sisik
Dikampung sialang punya aku
Kebul kata allah setajab tibo diaku



Gambar.1 pohon sialong[22] fotografer: Sofiyudin[23]

               Pendalaman mengenai pohon-pohon bedewo akan dijelaskan lebih mendalam oleh rekan Helnanelis dari IAIN Banten. Orang rimba sangat berhati-hati dalam usaha reservasi hutan, terutama pohon-pohon besar yang memiliki kekuatan supranatural. mereka menyikapi objek pohon sebagai fetis—sebuah objek yang didalamnya dianggap bersemayam ruh dan kekuatan tertentu sehingga menimbulkan pengaruh magis daya pesona[24].
               Ritual berikutnya yang menjadi identitas khas orang rimba adalah bebalas[25]. Balas tempat ibadah tahunannya orang rimbo dilaksanakan dua kali dalam setiap musim buah. Dilakukan dalam rangka berdoa karena telah mendapat rizki, atau karena rasa syukur telah terhidar dari bencana, panjang umur karena sembuh dari penyakit. Mereka berdoa kepada Alloh dan dewo-dewo mereka pada ritual tersebut.[26]
          

Sumber: Bepanji, Bilam, Margo Bungo dan Meriam Bungo[27].
Gambar 3. Posisi Ritual Bebalas

               Menurut orang rimba jika ada yang menceritakan acara bebalas kepada orang luar maka akan kedulat (terkena kutuk). Sehingga peneliti mendapat kesulitan jika menggali informasi lewat obrolan. Apalagi jika wawancara dengan orang dewasa mengenai bebalas maka akan diam tidak menjawab. Namun melalu bermain game bebalas para informan diberi area bermain berupa tikar plastik putih yang dimisalkan sebagai balas, mereka disuruh memberi tahu kami letak setiap pelaksana bebalas melalui kartu domino yang mereka letakkan di atas karpet plastik. Kartu tersebut dimisalkan sebagai orang-orangnya. Melalui permainan di atas tikar berukuran 60 X 60 cm ini, kami mengetahui posisi para informan dan posisi para penghulu juga bepak serta induk mereka ketika acara bebalas. Untuk menggali informasi ini kami mengulang game ini sampai lima kali. Setiap pengulangan mengalami perubahan posisi. Dari lima video rekaman, peneliti mengambil kecenderungan posisi seperti yang dideskripsikan di atas.
               Tumenggung Terap (Maritua) sebagai imam, hakim dan juga dukun dalam ketumenggungan ini berposisi paling depan untuk menjadi pemimpin sebahyangnya orang rimba. Selanjutnya T. Nyenong dan yang paling belakang adalah T. Ngamal. Adapun T. Mira yang menjadi salah satu anggota kelompok 4 orang Ketumengungan telah melangun sangat jauh dalam tiga tahun terakhir ini. Sehingga dia jarang mengikuti acara bebalas. Adapun para penghulu seperti tengganai, wakil tumenggung, depati, manku, debalang batin, anak dalam dan menti berposisi melingkari para tumenggung. Rakyat jenton dewasa berposisi di depan para betino dewasa. Adapun kupe, kulup, budak gadis dan budak bujang di posisikan di pinggir balas, mereka tidak mempermasalahkan letak harus di sebelah kiri atau kanan, semua di sesuaikan dengan keadaan—yang pasti mereka tidak dicampurkan. Adapun kupe dan kulup[28] yang masih harus dijaga bisa bersama induk dan bepak[29]-nya. Tidak menjadi persoalan jika bepak menjaga kulup atau kupe, begitu juga induk. Pilihan diserahkan kepada anak-anak itu ingin bersama siapa. Mereka berdoa, menari dan makan-makan di atas balas.
               Belum jelas mereka membuat balas dihadapkan kemana, karena anak-anak yang menjadi informan sering kali salah dalam menunjukan dari mana arah mata hari terbit, bahkan orang dewasanya juga. Terjadi saat kami akan mencari arah kiblat untuk sholat. Pada sore pertama di sungai Terap, kami merubah arah kiblat tiga kali, sebab informasi orang rimba tentang arah terbitnya dan terbenamnya matahari yang tidak jelas.
               Mengenai denda adat yang berhubungan dengan acara bebalas sejauh penelitian saya adalah anak laki-laki yang sudah bisa mengenakan cewot[30] dan budak gadis yang sudah ber-kemban[31] terkena sanksi hukum jika melakukan pelanggaran di balas. Misalnya koncing (kencing) di atas atau dekat balas. Maka orang tuanya dikenai denda 500 keping kain, juga bertanggung jawab menegakkan balas pengganti. Ada anjing atau babi yang naik ke atas balas. Maka pemiliknya terkena denda adat 250 keping kain.
               Menegak balas tidak boleh dekat sesudungon, harus jauh di pedalaman rimba. Membangunnya harus dalam jangka satu hari, tidak boleh lebih. Malamnya langsung diadakan ritual. Melihat keadaan bahwa rimba sudah menyempit, dan banyak kesibukan mengurus karet dan sawit, acara bebalas semakin sulit diadakan. 
               Jika ada orang dusun mengintip, maka dia akan pingsan karena tidak tahan melihat dewo (dewa atau hantu) orang rimba yang menyertai acara bebalas tersebut. Efek buruk lainnya jika acara ini dilihat orang luar maka imam orang rimba dalam acara bebalas akan berubah menjadi binatang. Apakah harimau atau gajah. Kejadian ini pernah terjadi pada seorang imam yang memimpin acara bebalas yang diintip oleh orang dusun. Sang imam pun telah berubah menjadi gajah. Gajah tersebut selalu menolong rombong-nya jika ada acara melangun. Ketika anggota rombongnaya akan menyebrangi sungai besar yang tidak ada jembatannya, maka gajah tersebut merubuhkan pohon besar di pinggir sungai untuk menjadi jembatan penyebrangan. Gajah tersebut selalu ikut kemana pun robongan-nya pergi. Ini adalah kisah dari Tumenggung Kayo. 
               Melalui pengamatan, ketika kami mendapati pohon sialong di kaki selatan Bukit 12, pemandu kami orang dusun setempat bernama Jamhuri memberi pesan untuk sangat berhati-hati ketika membuka jalan menuju pohon sialong, khawatir ada akarnya yang terluka oleh parang yang kami gunakan. Karena dendanya cukup berat yaitu 200 keping kain. Kami harus membuka jalan karena di sekitar pohon sialong dalam radius 15 meter telah ditumbuhi pohon cikai yang daunnya sering digunakan utuk menjadi atap sudung orang-orang rimba tempo dulu[32]. Kekhawatiran akan pelanggaran atas larang pantang dalam adat orang rimba yang sangat menekan dielaborasi oleh rekan Muhammad Junaidi dari IAIN STS Jambi dan sementara topik mengenai norma-norma hukum yang berakibat denda yang begitu banyak telah dielaborasi lebih dalam oleh Al-Husni dari STAI SMQ Bangko Jambi
               Diketahui dari Jamhuri bahwa tahun 2013 adalah tahun kedua orang rimbo tidak mendapatkan madu dari pohon sialong ini[33]. Dihubungkan dengan hasil wawancara peneliti bersama Bilam dan Bepanji tentang buah-buahan yang ada di antara sungai Terap dan sungai Dangku Besar seperti tampui rimba yanga rasanya sedikit pahit, tapui nasi yang manis, jambu merah, pedeho (klengkeng), mecong (mangga ), tayoy (manga yang masam), hombuton (rambutan hutan), ngengorit yang batang pohonnya seperti akar, buahnya sebesar manga, namun daging buahnya berwarna merah, dukuh, nadai (tampoi menteng), durian daun (durian hutan yang paling enak rasanya),  nangko (nangka), tebedak (cempedak), kelintang tango (batangnya berduri, hijau kulitnya, daging buahnya kuning), kelompang benang,  kedudu biwak, rinam, siabuk, idan, kuningising nasi, penggang, tungau, benton, jagul yang biasanya sedang musim di bulan Desember, pada tahun 2013 hampir semuanya tidak ada kecuali buah tampui nasi, kelintang tango  itu pun dalam jumlah yang sangat sedikit. Sehingga hanya menjadi makanan anak-anak yang bermain di rimba[34].


Gambar 2.1 Buah Kelintang Tanggo
Gambar 2.2 Buah Gadis Lapay diperlihatkan Agustina Damanik di Pos WARSI Sungai Terap

               Ketika saya coba konfirmasi kepada Pak Zulkifli[35] (orang dusun yang mengenal nama-nama bulan) tentang musim buah-buahan, hujan, kemarau, musim panen dan musim penyakit dalam lima tahun terakhir. Beliau memberikan gambaran sebagai berikut:   

Musim Buah
Jan
Feb
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agus
Sept
Okt
Nov
Des
Tampui











X
Jambu











X
Mecong











X
Pedeho











X
Tayoy











X
Hombuton











X
Ngengorit











X
Dukuh











X
Nadai











X
Durian











X
Tebedak











X
Jagul











X
Benton











X
Tungau











X
Penggang











X
Kuningising











X
Idan











X
Siabuk











X
Kelintang











X
Kelompang











X
Kedudu











X
Rinam











X
Cuaca












Hujan
T
I
D
A
K

J
E
L
A
S

Kemarau
T
I
D
A
K

J
E
L
A
S

Panen












Madu
X










X
Penyakit












Malaria
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
Batuk
X
X









X
Disentri
X
X









X
Muntaber
X
X









X
Sumber: Pak Zulkifli
               Keadaan musim buah dan merapah ditahun 2010 masih menghasilkan uang. Orang rimbo bisa menjual buah-buahan dan madu ke Simpang Pauh. Pada tahun itu orang rimbo memberikan hadiah 10 Kg madu hasil panennya kepada WARSI. Namun tahun-tahun berikutnya tidak pernah ada pemberian lagi. Buah-buahan hutan yang biasanya banyak di bulan Desember pun masih WARSI dapatkan pada tahu 2011 dalam jumlah yang sedikit. Sudah dua tahun terakhir ini buah-buahan rimba hanya jadi makanan anak-anak ketika kehausan karena lelah bermain di hutan[36].  
               Mengingat orang rimba di dekat Sungai Terap tidak mengenal hari dan bulan, mereka berpatokan kepada musim untuk menentukan umur atau tahun. Umur anak-anak mereka yang masih di bawah 10 tahun masih mereka kenali bahwa umur anak tersebut dengan menyebut sudah sekian musim. Namun orang yang dewasa dan sudah tua tidak mengingatnya lagi.  Keadaan musim buah yang tidak jelas sedikt banyak akan berpengaruh kepada acara bebalas yang merujuk pada musim buah-buahan. Ditambah dengan banyaknya masalah sengketa antar mereka karena ketidakadilan dalam membagi hasil hutan, atau sengketa tanah dengan orang dusun dan perusahaan-perusahaan di sekitar Taman Nasional, membuat mereka semakin jarang mengadakan ritual tersebut. Sulitnya mendapatkan kayu-kayu besar, yang menjadi syarat penegakkan balas, membuat mereka sulit untuk mengadakannya.  Lebih dalam pembahasan tuhannya orang rimbo ada dalam tulisan laporan rekan Muhammad Nurdin Juhdi dari STIQ Bantul dan topik transformasi teologi orang rimba dielaborasi oleh Ibnu Fikri dari IAIN Wali Songo Semarang. Tulisan mereka mengelaborasikan ajaran Islam ala rimba dan perubahan-perubahan spiritualitas mereka dengan berdatangannya misionaris agama Islam dan Kristen ke dalam kehidupan mereka.  

Ideologi Orang Rimbo

Ideologi adalah sistem kepercayaan atau perangkat kepercayaan yang ditentukan secara sosial, yang bisa juga digunakan untuk melindungi kepentingan golongan elit[37]. Sistem kepercayaan (belief system) yang menjadi karakteristik kelas atau kelompok tertentu. Sistem kepercayaan ilusif—ide palsu atau kesadaran palsu (false consciousness)—yang kontras dengan pengetahuan ilmiah. Proses umum produksi makna & ide (production of idea). Ideologi adalah Ideology adalah proses merepresentasikan relasi sosial bersifat material dan upaya untuk menyelesaikannya di dalam wacana (film, buku, iklan). Ideologi merepresentasikan relasi imajiner individu-individu dengan kondisi eksistensi mereka.[38]
Pada umunya, ketika orang awam mendengar ideologi, maka dihubungkan dengan politik dan partai politik. Padahal sesungguhnya ideology adalah system kepercayaan yang menumpang dalam citra (image), tindakan (action), gaya hidup (life style) dan benda (object). Sebagai contoh semua kata yang mengandung isme berarti ideologi. Seperti kapitalisme berarti salah satu ideology ekonomi. Komunisme berarti salah satu ideology politik. Ekspresionisme, berarti salah satu ideology seni. Feminism, berarti salah satu dari ideology budaya, dan lain-lain. Perlu dicatat bahwa nama-nama ideologi tidak selalu harus berakhiran isme, bisa juga kata berakhiran yang lainnya. Untuk lebih jelasnya silahkan melihat bagan yang di kutip dari kuliah Yasraf Amir Piliang berikut ini.  


Gamabar 3. Posisi Ideologi Dalam Culture Studies
Oleh Yasraf Amir Piliang[39]

Laporan ini mencoba mendeskripsikan ideologi politik orang rimbo—dalam bagan diatas berarti ideologi yang ada dalam tindakan (action) berpemerintahan—melalui analisis etnohitoris. Konon, dulu Raja Pagaruyung mengirimkan pasukannya ke Jambi  untuk membantu Ratu Jambi Putri Selaro Pinang Masak (keturunan Raja Minangkabau) yang pada zaman pemerintahannya, Kerajaan Jambi telah diserang oleh Orang Kayo Hitam yang menguasai Ujung Jambung (selat Berhala). bermusyawarahPasukannya melalui jalan darat menyusuri rimba. Ketika sampai di Bukit 12 pasukan telah kehabisan bekal, padahal sudah jauh dari Pagaruyung dan masih jauh ke Jambi. Kemudian mereka bermusyawarah untuk tetp tinggal di tempat tersebut. Jika kembali ke Pagaruyung selain malu  juga akan dihukum oleh rajanya. Jika meneruskan perjalanan ke Jambi yang masih jauh tentu bekal tidak ada lagi. Mereka bersumpah untuk tetap tinggal di tempat itu dengan ketentuan siapa saja melanggarnya akan terkutuk dan hidupnya sengsara. Sumpahnya adalah sebagai berikut: “Ke mudik dikituk Rajo Minangkabau, ke hilir kena kutuk Rajo Jambi, ke atas tidak berpucuk, di tengah-tengah dimakan kumbang, ke bawah tidak berurat, ditimpo kayu punggur.” (kembali ke Minangkabau dikutuk Raja Minangkabau, ke hilir dikituk Raja Jambi, ke atas tidak berpucuk, di tengah-tengah dimakan kumbang, ke bawah tidak berakar, ditimpa kayu lapuk). Mereka yang tersesat inilah yang kemudian menjadi nenek moyang orang rimba. Terpilihnya Bukit 12 ini sangat beralasan karena di sana banyak batu-batu besar yang skaligus dapatdimanfaatkan sebagai banteng. Ada sumber air dan sungai-sungai kecil tempat hidup banyak ikan yang bisa dikonsumsi[40].   .
            Terlepas dari tempatnya di rimba dan memiliki aturan sendiri, mereka tetap mengakui Raja Jambi sebagai pemimpin mereka. Pada masa Tumenggung Kayo, ketika terjadi peperangan antara Sultan Taha Saifiddin dan Belanda, orang rimba pernah ikut berperan dalam penyelamatan nyawa Sang Raja. Ketika itu Raja dimasukan ke dalam kain goni yang mereka pikul melewati hutan. Ketika melewati pasukan Belanda yang tentunya memeriksa apa yang mereka bawa, maka ketua rombongan ini menjawab kalau mereka sedang membawa goni berisikan bibit tanaman untuk ladang mereka. Peristiwa penyelamatan nyawa ini fenomenal di kalangan sejarawan Jambi. Mereka mengenal Soekarno dan Soeharto sebagai raja mereka. Namun pemimpin-pemimpin RI setelahnya tidak dikenal lagi oleh masyarakat di Ketumenggungan Sungai Terap.
Orang rimba mengenal ideologi politik monocracy (pemerintahan oleh satu orang) untuk mengurusi pemerintahan diatas mereka, walaupun mereka memiliki aturan-aturan khas yang tidak sama dengan aturan-aturan raja. Pada masa Tumenggung Pagar Alam, dan Tumenggung Kayo ideology monoarcy masih dipegang, namun mereka sekarang menggunakan sistem pemerintahan oligarchy (pemerintahan dengan beberapa pemimpin) untuk  mempertahankan ruang hidupnya dari perusahaan-perusahaan dan orang-orang dusun yang mulai merampas hutan mereka. Tumenggung (T) yang memimpin ada tiga yaitu, T. Kuning, T. Terap dan T. Besiring. Sekarang setiap sungai ada tumenggungnya sendiri, sehingga jumlahnya menjadi 11 orang. Dari sebelas ini ada empat tumenggung yang sering bercecakap (melakukan pertemuan) di Pos WARSI Sungai Terap, yaitu: 1) T. Maritua yang berfungsi sebagai dukun, imam juga hakim di rombong-rombong yang dipimpin empat tumenggung ini; 2) T. Nyenong yang usianya paling tua, memiliki kemampuan kehumasan dengan orang luar yang lebih baik dari tiga yang lain; 3) T. Ngamal yang menjadi mertua T. Nyenong, dan; 4) T. Mira yang kini sudah melangun sangat jauh sehingga jarang berinteraksi—walaupun hubungan masih terus dibuat jika ada regulasi-regulasi baru di ketemenggungan ini. Lebih dalam akan dibahas mengenai ketemenggungan orang rimba oleh rekan Irwan Evarial dari STAIN Kendari. Tulisannya membahas tentang upaya orang rimba merespon datangnya orang-orang luar yang mulai merampas ruang hidup mereka melalui perubahan kepeminpinan dari satu tumenggung ke banyak tumenggung.
Adapun gambar transek dari lokasi-lokasi ketiga tumenggung yang kami datangi adalah berawal dari Simpang Pauh sebagai pusat perbelajaan yang sering didatangi orang rimba sampai dengan lokasi terjauh yang kami datangi yakni Sungai Terap yang saat ini dihuni rombong T. Nyenong. Saya membuat gambar ini bersama kawan-kawan—sebagai pemberi masukan jika ada yang kurang—bersumber dari data mentah dalam buku catatan kecil saku saya. Karena panjangnya gambar saya membagi menjadi 5 foto. Setiap foto memiliki catatan singkatberupa temuan, problematika dan perubahan yang terjadi di tempat tersebut. Peneliti mencoba menjelaskan catatan tersebut jika terasa belum cukup. Adapun foto-fotonya adalah sebagai berikut.

Gambar. 4 Transek Dari Simpang Pauh menuju PT Imal

Yang tertulis dalam problematika di daerah Simpang Pauh, peneliti menulis “Penduduk jadi karyawan”. Peneliti melakukan wawancara kepada seorang ibu pemilik warung gorengan di depan grosir milik orang Jambi. Dia menceritakan bahwa penduduk di Simpang Pauh banyak yang menjadi karyawan di toko para pedagang pendatang yang memiliki modal besar. Orang rimba setiap pagi dan sore berbelanja di grosir ini. Orang rimba yang berdagang ada yang menyewa kamar untuk mereka bermalam. Di tempat itu banyak mobil berhenti untuk istirahat. Pedagang kaki lima yang menjual pecel lele, sea food dan makanan cemilan lainnya bermuculan di tempat itu. Penduduk setempat banyak yang ikut membeli ketika kami jajan di tempat ayam goreng.
Ketika kami di Pos WARSI, nama Simpang Pauh adalah tempat yang sering menjadi tujuan semua orang-orang rimba bertempat di Sungai Terap yang dipimpin T. Nyenong. Rombong di area kebun karet PT. Wahana Perintis Hutan Tanaman Industri yang dipimpin T. Maritua dan rombong di area kebun Sawit PT Imal yang dipimpin T. Ngamal menjual hasil hutan atau belanja ke Simpang Pauh.
Di simpang Imal saya menulis orang rimba menjadi selebrities. Peneliti menemukan betino-betino rimba yang bersedia di foto dengan bayaran uang. Dia meminta untuk satu wanita dewasa seharga Rp. 20.000, sedangkan untuk anak-anak  Rp. 10.000 satu orang. Setelah ditarik keterangan dari ibu Sri Wahyuni penunggu warung nasi di Simpang Imal, wanita rimba ini anggota rombong yang sangat miskin bukan berasal Kedundung Muda atau Sungai Terap. Dia pun tidak bisa memberi keterangan lebih mengenai asalnya. Rombong miskin ini tidak di terima di kedua daerah tersebut.
Gambar. 5 Transek dari Pos PT. Imal s.d. Pos HTI
Peneliti mendapat informasi dari tiga rekan kami Pak Junaidi, Ihsan Sanusi dan Ibnu Fikri yang melakukan survey ke rombong T. Ngamal dan rombong Bebalang Batin (Nyamping) bahwa di daerah ini sungai telah tercemari pupuk sawit. Orang rimba tetap menggunakan air sungai tersebut untuk MCK dan minum—yang menyebabkan mewabahnya muntaber, gatal-gatal, batuk dan malaria. Bahkan ketiga surveyor ini menyarankan kelompok peneliti Sungai Terap untuk tidak life in bersama rombong T. Ngamal karena resiko tertular penyakit terlalu tinggi. Sangatlah menyedihkan keadaan orang-orang rimba di area ini. Sudung mereka sering terbang karena tertiup angin kencang yang tidak berkompromi, disebabkan angin tidak lagi bisa dijinakkan oleh pohon-pohon hutan, karena hutan di area ini sudah berubah menjadi kebun sawit. Mereka tetap bertahan dilokasi ini untuk menjaga 53 Ha kebun sawit yang menjadi bagian orang rimba. Padahal perusahaan memberikan bagian untuk orang dusun dan orang rimba sebanyak 2000 Ha. Kemampuan orang rimba dalam berhitung dan membaca yang lemah telah dimanfaatkan orang-orang dusun untuk mendapat bagian yang lebih banyak. Namun orang rimba belum banyak mempersoalkannya karena pada saat panen, mereka tetap berani memanen kebun sawit bagian orang dusun. Karena mereka memahami batang pohon memang dimiliki secara perorangan untuk diwariskan, namun buah pohon bisa diambil siapa saja yang membutuhkan, tentunya denag berbagi hasil. Pohon-pohon sawit tersebut masuk dalam wilayah adat orang rimba yang mereka akui sebagai warisan nenek moyang mereka, maka hukum adat mereka harus dijalankan. Dalam hal ini perlu difahami makna tanah menurut orang rimba. Makna ini telah dielabolasi dalam tulisan laporan rekan Sofiyudin dari STAI Khozainatul Ulum Blora.
Gambar 6. Transek dari Pos HTI s.d. Tower Pemantau
Di rombong T. Terap (Maritua) pada bagian perubahan peneliti menulis lahirnya undang-undang baru (isu gender). Undang-undang tersebut mengenai mas kawin yang harus disediakan untuk menikahi budak gadis adalah satu buah mobil. Undang-undang baru ini dipelopori dua bini T. Maritua dan diaminkan oleh betino-betino rimba di daerah Sungai Terap. Undang-undang ini berefek pada dendo adat menjadi dua kali lipat. Contohnya dendo adat sumbang mata adalah 100 keping kain dirubah menjadi 200 keping kain. Keadaan ini telah berakibat kepada gejala sosial yakni banyak bujang yang memilih menikah dengan gadis dusun dan banyak gadis lapuk di kalangan orang-orang rimba—dalam empat tahun ini. Anak gadis tunggal T. Maritua sudah cukup umur untuk menikah, namun karena undang-undang, belum juga menikah. Tiga tumenggung lainnya tidak setuju dengan undang-undang ini, namun betino-betino di rombong mereka terpengaruh dengan Sang Ratu Rimbo. Elaborasi mengenai perebutan ruang kuasa antara wanita dan laki-laki rimba ini akan dielaborasi oleh Agustina Damanik dari STAI Bahrul Ulum Sibolga.
Munculnya undang-undang di dikalangan orang rimba sangat dipengaruhi oleh wanita. Hypogamy, yakni perkawinan antara seorang wanita dengan laki-laki yang lebih rendah kedudukannya, sejauh pengamatan, tidak pernah terjadi di rombong-rombong ketemenggungan Sunagi Terap. Namun hypergamy, perkawinan antara seorang wanita dengan pria yang lebih tinggi kedudukannya terjadi—jika wanita memiliki kelebihan dalam kecantikan atau kerajinannya bekerja. Matrilineal inheritance atau kewarisan melalui garis ibu adalah ideology budaya mereka. Laki-laki jika mati mewariskan seluruh hartanya kepada isrti dan anak wanitanya. Anak laki-laki atau mamak (paman) bertugas membagi dengan adil supaya tidak ada pertengkaran. Ideologi matriarchy, pemerintahan oleh golongan wanita secara de’ facto terjadi, garis keturunan matrilineal, pola kediaman matrilokal dimana laki-laki bertempat tinggal di tepat keluarga bini, dan matripotestalitas (wewenang yang berpusat pada ibu) adalah pola-pola hubungan laki-laki dan wanita rimba. Terbukti dari kisah Rajo Sokola (nama yang dihadiahkan orang rimba untuk Prof. Muntolib pada tahun 1993) ketika akan membawa seorang anak laki-laki untuk sekolah di Jambi ternyata dilarang oleh ibunya. Anak tersebut akhirnya tidak bias ikut karena kuasa ibu sanagat besar atas dirinya[41]. Dalam penamaan kepada anak-anak laki-laki seperti Mariam Bungo, Margo Bungo, Besiap Bungo adalah ideologi matronymic, yaitu sikap pewarisan nama ibu atau nenek moyang dari pihak ibu kepada anak-anak laki-laki mereka. Bungo adalah nama wanita—terbukti ketika nama Tanggul Bungo telah dihadiahkan kepada saudari Siti Tatmainul Qulub dan Besujud Bungo dihadiahkan kepada saudari Helnanelis, rekan-rekan kami yang meneliti di Kedundung Mudo. Laporan rekan Siti Tatmainul Qulub dari STAI Indonesia mengelaborasikan peran wanita dalam keluarga, sementara rekan Zarfina Yenti dari IAIN STS Jambi mendeskripsikan reproduksi wanita rimba.   
Ketika kami akan life in di rombong T. Maritua, dia menyuruh kami untuk membangun kemah sejauh ½ jam perjalanan dari romongnya. Selain para jenton sedang disibukan untum panen sawit, kami pun dikarantina di tempat yang jauh karena orang luar itu penuh penyakit dalam pandangan mereka. Jamhuri, seorang dusun yang setia menemani kami mengusulkan pada kami untuk tinggal di kawasan luar saja, karena tidak akan kuat denagn bau kotoran yang sudah sangat menyengat di lingkungan rombong mereka. Mereka mempunyai sumber air yang kecil namun anggota rombong mereka paling banyak diantara semua rombong di Bukit 12. Akan sulit memahami makna bersih menurut orang rimba jika kita melihat dari kacamata orang luar. Makna bersih menurut orang rimba ini akan dielaborasi oleh Oktaviandri dari STAI Balai Selasa Padang yang pembahasannya seputar makna kesucian dan kemurnian bagi orang rimba.
Di bawah ini telah dideskripsikan system kekerabatan Tumenggung Terap (Maritua). Yang tertua dari kekerabatan ini adalah T.Kayo kakek dari T. Nyenong—yang menjadi informan. Generasi kedua adalah T. Berambai yang meninggal tahun 1995. Dahulu orang-orang rimba sangat berkecukupan mengenai makanan. Tamu-tamu luar telah dijamu oleh T. Berambai, apakah itu makanan berupa ubi rebus atau buah-buhan hutan. Sejak tahun 1995. T. Mija menggantikannya, tata karma kepada tamu luar masih terjaga di masa itu. Robert WARSI hadir pada saat T. Mija masih hidup. Namun seiring waktu, pengaruh luar seperti pemberian hadiah-hadiah dari perusahaan-perusahaan kayu, karet dan sawit telah berdatangan. Bantuan pemerintah sering diberikan. Seperti biasa, itu semua tidak berlangsung lama. Ketika tanah orang rimba bisa di kuasai untuk perkebunan, maka hadiah-hadiah tersebut makin sedikit. Sementara sikap menerima pemberian telah menjadi kebiasaan. Ketika datang tamu, siapa pun mereka, apakah tamu perusahaan yang bermodal atau para peneliti atau mahasiswa yang bermodal kecil tetap harus memberikan bakon[42] (bahan kontak) yang tentunya akan memberatkan sebagian pihak. Penelitian tentang bakon telah dielaborasi oleh rekan Ihsan Sanusi dari STAIN Batusangkar Sumatera Barat.
Di balik gambar kekerabatan ini penuh cerita perceraian, istri tumenggung yang dibawa lari rakyatnya, seseorang mempertahankan kekuasaan tumenggung dengan menjadi mantu lima tumenggung, tumenggung menikahi anak angkat sendiri, dan anak tiri tumenggung yang menyukai ibu tirinya—mantan istri tumenggung. Pendalaman tentang kawin dan perceraian di kalangan orang rimba dibahas lebih dalam oleh saudara Abdul Mutolib dari STAI MA Bulian. Namun penelitiannya tidak dilakukan di Sungai Terap, tapi di kedundung Muda. Intinya kisah cinta mereka penuh intrik politik dan kacau wapek (istilah rimba yang berarti kacau balau).




Made by Govar Arian Laleno, Pos Warsi, Sungai Dangku Besar, Batanghari, Jambi, 29 Desember 2013


 

Gambar.7 Transek dari Sungai Jelutih s.d. Batas Taman Nasioanl Bukit 12
           
Dalam gambar ini, pada bagian perubahan di daerah Sungai Jelutih sebagai batas HTI dan perkebunan karet orang dusun dan orang rimbo, tertulis bahwa PT Imal akan membangunkan jalan dan lapangan bola atas permintaan orang rimba. Rencana untuk menjadikan orang rimba lebih akrab dengan budaya populer (budaya dangkal) telah membuahkan hasil dengan indikator permintaan mereka. Akan terjadi rekayasa sosial yang sangat cepat jika jalan baru itu diwujudkan. Berdatangannya sponsor rokok yang membiayai pertandingan bola disertai sensualitas para sales promotion girl-nya, yang menjadi lambang budaya populer, akan merasuk ke ruang hidup orang rimba. Video-video bola, lagu-lagu dangdut dan India telah ada di HP-HP mereka. Sesalung[43] menjadi mudah melalui HP. Cewot tidak lagi menjadi kebanggaan budak-budak bujang. Berjudi sudah dibiarkan terjadi didepan Tumenggung dan Menti Terap. Sangat mengherankan ketika Menti memberikan modal kepada anaknya untuk berjudi saat itu. Di malam yang sama sebelum berlangsung perjudian, Theo memberikan pembelajaran menggambar dan mewarnai. Ketika anak-anak mulai bosan, mereka mulai bermain domino untuk berjudi. Anak yang ikut berjudi berseloroh, “Judi ini memang dosa, tapi nenek moyang kita tidak pernah melarangnya.”  Keberadaan Pos WARSI di Sungai Dangku Besar adalah penetrasi kebudayaan luar ke dalam kehidupan orang rimba. Topik ini akan dibahas lebih dalam  melalui laporan penelitian rekan Sururudin dari IAIN STS Jambi. Topik transformasi budaya diperdalam melalui laporan pendidikan ala rimba yang ditulis oleh Gunawan Iktiono dari STAI Fatahilah Cirebon sehinga berpengaruh pada pola asuh anak-anak rimba yang dibahas oleh Muslimin Muslimin dari STAI SMQ Bangko.


Gambar 7.a Pendidikan di Rimba oleh Theo dari WARSI bersama Murid-Muridnya



Gambar 7.b Pola asuh ala Rimba: tiga murid Theo ikut serta. Rekan Al-Husni dari STAI SMQ Bangko mengamati di sisi paling kanan.

Gambar 8. Transek dari Sungai Danku Besar sampai dengan Sungai Terap

Dalam gambar di atas, di bagian ladang-ladang orang dusun terdapat pondok milik Pak Umar, Qodri, Jamhuri dari Jambi, dan Pak Mokhtar dari Jawa. Mereka membuka ladang di tanah yang sangat dekat dengan Taman Nasional. Kecemburuan antar pemilik ladang telah terjadi karena Menti Terap sering memberikan ijin pada seseorang dikalangan orang dusun untuk membuka hutan tanpa sepengetahuan T. Nyenong.
Orang-orang dusun ini telah mengenalkan cara membuat teh dicampur gula—dulu orang rimba menggunakan sari tebu atau madu sebagai pemanis—dan mengenalkan cara berladang padi. Terjadi custom imitaton yakni bentuk peniruan terhadap adat istiadat secara tidak sadar oleh karena adanya pengendalian sosial secara persuasif dari kalangan orang dusun.
            Pada bagian problematika di robong Depati Terap terdapat dua kata: “cinta lokasi”. Maksud dari kata-kata tersebut adalah penolakan Depati terhadap anak muda (Besilo) yang menyukai anak gadisnya, karena Depati menyukai adik Besilo yang cantik. Lidah Penado adalah bepak Besilo yang miskin. Secara adat, yang kaya kawin dengan yang kaya, yang miskin kawin dengan yang miskin[44]. Namun dalam prekteknta terjadi pernikahan antara wanita dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukannya karena kecantikan atau kerajinan yang dimiliki wanita.


Gambar 9. Peta Rombong T. Serengam di Sungai Terap

Inilah peta rombong yang menjadi daerah terjauh yang kami kunjungi dari peta transek yang dibuat. Pohon kedundung yang paling mencolok warnanya adalah calon pohon sialong. Dalam upaya konservasi lebah madu orang rimba menggunakan ideologi budaya fetisisme dalam menyikapi pohon-pohon muda yang akan menjadi pohon sialong, suatu sikap yang menganggap adanya kekuatan, ruh dan daya pesona tertentu yang bersemayam pada pohon kedundung yang tumbuh di tengah-tengah rombong. Untuk membuka ladang, semua pohon yang lebih besar telah ditumbangkan dan dibakar kecuali pohon ini.
Hal lain yang menarik adalah sudung induk dan nenek Merajat yang terpisah di balik hutan karet. Mereka dilarang membuat sudung di tengah-tengah anggota rombong yang lain karena keluarga ini pernah tinggal di HTI dua bulan lamanya untuk membantu keluarganya memanen sawit. Orang-orang rimba yang datang dari HTI berarti membawa penyakit, mereka dinamai bunaron. Mereka tidak boleh mendekat sebelum satu atau dua minggu tinggal di lokasi yang terisolir dalam rangka pengarantinaan. Jika terbukti sehat dalam satu atau dua minggu maka diperbolehkan masuk.
Pembagian lahan ladang yang dibuka adalah pembagian untuk para bini. Laki-laki tidak memiliki harta berupa ladang. Begitu juga hutan karet yang dulunya dimiliki perusahaan. Sekarang diambil alih kepemilikannya oleh orang rimba semenjak SK taman Nasional diberlakukan. Itupun tetap dimiliki para bini. Bini T. Maritua bahkan ikut memiliki ladang yang dibuka dan sebagian besar hutan karet. Pembagian lahan untuk penggarap yakni T. Serengam (Nyenong) adalah 2/3 bagian. Sedangkan pembagian lahan untuk T. Maritua sebagai penguasa lahan adalah 1/3 bagian. Anggota Rombong yang totalnya adalah 39 jiwa harus puas dengan bagian tersebut. Karena kuasa menentukan luasnya lahan ladang. Orang rimba jika ditanya tanah sekitar Sungai Terap milik siapa, maka akan dijawab, “Milik T. Terap, tapi kami boleh mengelolanya.” Ideology yang dipakai dalam politik kekuasaan di kalangan orang rimba adalah paham territorialism, dimana konsetrasi dari kekuasan politik berada ditangan pemilik tanah-tanah yang luas. Terbukti Tumenggung Terap beserta kedua bininya sangat berpengaruh kepada dijalankannya regulasi-regulasi baru di kempat ketumenggungan ini.     

Kesimpulan dan Saran

Kelompok orang rimba termasuk dalam kategori: 1) descent group, yakni kelompok yang didasarkan pada prinsip-prinsip genealogis (kelompok garis keturunan); 2) domestic group, yakni kelompok yang karena kebiasaan mempunyai tempat tinggal dan sumber makanan yang sama (kelompok domestic); 3) ethnic group, yakni suatu kelompok yang mempunyai ciri-ciri yang sama pada agamanya, asal rasnya, nasionalitas, ataupun kebudayaannya; 4) genetic group, yakni suatu kelompok yang anggota-anggotanya secara genetic berhubungan dengan nenek moyang yang sama; 5) intimate group, yakni suatu kelompok yang anggotanya-anggotanya mempunyai hubungan afektif yang erat seakli (kelompok akrab); 6) kinship group, yakni suatu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai hubungan kekrabatan (kelompok kerabat); 7) marginal group, yakninsuatu kelompok yang tidak berasimilasi secara sempurna; 8) totalitarian group, suatu kelompok yang mengatur seluruh aspek kehidupan anggota-anggotanya melalui seloko dan denda-denda adat.
Normative ideology orang rimbo adalah bagian sistem kepercayaan orang rimba berupa seloko-seloko. Melalui pesan-pesan itu terjadi interpersonal control berupa pengendalian yang dilakukan oleh tumenggung sebagai pimpinan tertinggi terhadap rakyatnya. Untuk mendalaminya, perlu metode khusus, karena mereka dalam keadaan buta huruf atau tidak terdidik secara formal. Peneliti menyarankan perlu nondirective interview, wawancara tidak berstruktur, dimana subjek maupun bentuknya diserahkan kepada responden (wawancara tidak terarah), nonschedule interview, wawancara tanpa menggunakan jadual, open-ended interview, wawancara tanpa alternative jawban yang pasti (wawancara terbuka). Akan sulit melakukan opinion interview, yakni wawancara untuk memperoleh pendapat orang rimba. Mereka akan kesulitan menjawab dan berkat, “Ya, macam itulah.”
Untuk mempelajari customary law orang rimba, yakni hukum yang timbul dari adat istiadat orang rimba, yang diakui oleh masyarakat, atau diputuskan oleh pejabat adat (hukum tidak tertulis), territorial law, hukum yang berlaku bagi semua penduduk rimba di Bukit 12, personal law, yakni hukum yang berlaku bagi kelompok etnik orang rimba memerlukan teori semiotika hukum. Karena Hukum mereka berdasarkan seloko-seloko yang bias. Memerlukan proses pemaknaan dalam mempelajarinya.
Adapun tentang kepemimpinan orang rimbo, dalam meneliti lebih dalam mengenai perubahan dari monoarchy menjadi oligarchy, perlu metode etnohistory, yakni suatu studi historis terhadap proses akulturasi orang rimba dengan orang dusun, para transmigan, dan perusahaan-perusahaan yang mengepung mereka dari setiap perbatasan adat yang selama ini diyakini orang rimba sebagai kawasan ruang hidup mereka. Perlu menggunakan historicalism, yakni studi tentang unsur-unsur kebudayaan sebagai suatu proses perkembangan, dan historicism, suatu ideology penelitian yang menyatakan, bahwa sejarah sangat penting untuk memahmi keadaan dewasa ini.
Mengenai ciri khas komunitas rimba ini adalah melangun. Pada masa kini dimana orang-orang rimba telah memiliki kebun karet, kebun sawit dan lading yang harus dijaga, maka tindakan sosial ini merupakan impelled migration, yakni migrasi yang dipaksakan. Anak-anak muda sering kali mengeluh tentang kelelahan yang diderita ketika harus melakukannya. Terkadang melangun hanya dilakukan dalam masa tiga hari saja demi menunaikan kewajiban. Peristiwa melangun termasuk interlocal migration, yakni migrasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya, atau intraregional migration, yakni migrasi dalam satu wilayah tertentu. Melangun juga bisa menjadi sebuah political migration dan economy migration,  yakni migrasi yang disebabkan keinginan sebagian anggota rombong untuk memisahkan diri supaya bisa mandiri dalam kepemimpinan dan perekonomian. Konsep lain yang bisa mewakili aksi melangun karena sebab ekonomi dan politik adalah resultant migration, yakni migrasi sebagi hasil pengaruh situasi ekonomis, seperti pembagian hasil buruan yang terlalu sedikit karena semakin besarnya jumlah anggota rombong, yang jika bergabung terus, maka akan terjadi perebutan sumberdaya antar orang rimba. Sementara konflik terbuka sangat dihindari dalam kehidupan mereka. Faktor lain adalah situasi sosial politik, seperti tidak puasnya sebagian rakyat dengan keputusan-keputusan tumenggung, sehingga memilih untuk memisahkan diri dari rombong lama. Bagi kelompok yang berpisah akan terjadi social mobility, yakni gerak seseorang dari satu posisi depati ke posisi tumenggung, menti jadi depati dan lain sebagainya. Bentuk melangun berupa primitive migration, yakni migrasi yang terjadi karena dorongan ekologis masih sering terjadi—seperti yang dilakukan T. Mira yang memilih melangun ke tempat yang lebih jauh untuk mendapatkan sumber daya alam yang lebih kaya.
Mengenai kasus marriage by capture, yakni perkawinan dengan cara menculik calon istri, kadang-kadang dilakukan atas dasar rencana untuk menhindarkan diri dari kewajiban-kewajiban menurut adat istiadat yang terlampau berat sering terjadi. Alasan lainnya adalah istri orang lain terlihat lebih menarik. Peristiwa ini biasanya terjadi di dalam kelompok yang menganut endogamous group, yaitu suatu kelompok dimana anggota-anggotanya, yakni para wanita rimba dilarang untuk menikah denagn orang di luar. Sementara laki-laki yang ada sangat terbatas. Jika terjadi kasus tersebut maka akan menjadi gossip, yakni pembicaraan tentang pelaku kawin culik disertai evaluasi moral yang dilakukan masyarakat rimba. Mereka siap dengan denda dan hukuman adat yang harus diterima asalkan mendapatkan pasangan.
Adoptive marriage yakni perkawinan dimana suami diadopsi dalam keluarga isteri, matrilocal marriage, yakni perkawinan yang dilakukan denaagan akibat bahwa suami bertempat tinggal di lingkunagn kerabat istrinya adalah indikator-indikator bahwa orang rimba menggunakan ideology matriarchy dalam melangsungkan kepemimpinannya. Istri tumenggung menjadi Ratu Rimba yang sangat berpengaruh terhadap regulasi-regulasi di dalam kehidupan mereka. Karena wanita sangat cenderung pada materi maka cultural materialism, yakni ajaran yang mengutamakan faktor-faktor ekonomi dalam kebudayaan, telah menjadi ajaran yang membuat mereka menawarkan mas kawin sebuah mobil bagi laki-laki yang tertarik padanya. Isu gender ini terjadi empat tahun yang lalu, yaiyu tahun 2009. Setelah masuknya Butet Manurung, guru sokola rimbo, yang beragama Kristen. Terjadi gradualisme, yakni suatu cara mengubah masyarakat rimbo secara bertahap denagn mengadakan reformasi-reformasi tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang direncanakan secara bertahap. Yang pada akhirnya nanti akan terjadi gynocracy, yakni pemerintahan oleh kaum wanita di dalam sudung-sudung orang rimba.


      
 


DAFTAR PUSTAKA

Laleno, Govar Arian, 2013, Peta Konflik dan Sumber Konflik Di Gorontalo, KESBANGPOL Prov. Gorontalo.
Piliang, Amir Yasraf, 2012, Semiotika dan Hypersemiotika, Bandung, Pustaka Matahari
Soekanto, Soerjono, 1993, Kamus Sosiologi, Jakarta, PT Raja  Grafindo Persada
VCD Kuliah Piliang, Amir Yasraf, 2012, Semiotika dan Hypersemiotika, Bandung, Pustaka Matahari yang ditulis kembali oleh Govar Arian Laleno, di Jambi tanggal 02 Desember 2013.
Zainuddin, 2009, Sistem Kekerabat Orang Rimba, Komunitas Konservasi Indonesia-WARSI, Jambi

Wawancara dengan T. Nyenong di Sungai Terap Tanggal 16 Desember 2013
Robert Aritonang adalah Koodinator Pemberdayaan di LSM Komunitas  Konservasi Indonesia WARSI memberikan cerita ini kepada peserta Short Course Metodologi Penelitian Sosial Keagamaan pada tanggal 4 Desember 2013 di Ruang Senat IAIN STS Jambi, Mendalo, Jambi. 
Cerita Depati Terap tanggal 30 Desember 2013 kepada kami di Pos WARSI Sungai Terap.
Wawancara dengan T. Maritua di HTI tanggal 22 Desember 2013
Wawancara dengan T. Nyenong di Sunagi Terap tanggal 15 Desember 2013.
Wawancara dengan T. Nyenong di Pos WARSI Sungai Dangku Besar tanggal 18 Desember 2013.
Bepanji, Bilam (dua budak bujang), serta Margo Bungo dan Meriam m Bungo (dua anak-akak laki-laki kecil) dari rombong T. Nyenong di Sungai Terap yang kami ajak bermain game bebalas di Pos warsi Tanggal 19 Desember 2013
Diceritakan oleh Jamhuri, orang dusun, yang membawa kami menuju pohon sialong di kaki selatan Bukit 12 tanggal 29 Desember 2013
Wawancara dengan Bepanji dan Bilam di Sungai Terap tanggal 16 Desember 2013.
Wawancara denagn Pak Zulkifli 18 Desember 2013 di Pos WARSI Sungai Dangku Besar.
Wawancara denag Depati di Pos Warsi Sungai Dangku tanggal 19 Desember 2013
Dikisahkan Prof Muntolib (peneliti orang rimbo tahun 1993, yang kini menjadi guru besar di Fakultas Tarbiyah IAIN STS Jamabi) dalam acara coaching pelaporan penelitian tanggal 10 Januari 2014 di Aula Hotel Amanah, Jambi.
Wawancara tanggal 19 Desember 2013 dengan Lidah Penado yang sudah sangat tua dan juga keluarga miskin yang merasa kebingungan untuk menikahkan anaknya Besilo karena sangat besarnya mas kawin yang diminta. Itulah yang membuat Besilo lebih memilih wanita dusun dari pada wanita rimba.






[1] Wawancara dengan T. Nyenong di Sungai Terap Tanggal 16 Desember 2013
[2] Jenang adalah penyambung lidah orang rimba dengan raja Jambi dalam memberikan upeti-upeti agar mereka dilindungi keberadaannya.
[3] Robert Aritonang adalah Koodinator Pemberdayaan di LSM Komunitas  Konservasi Indonesia WARSI memberikan cerita ini kepada peserta Short Course Metodologi Penelitian Sosial Keagamaan pada tanggal 4 Desember 2013 di Ruang Senat IAIN STS Jambi, Mendalo, Jambi. 
[4] Cerita Depati Terap tanggal 30 Desember 2013 kepada kami di Pos WARSI Sungai Terap.
[5] Diceritakan Robert Aritonang kepada peserta Short Course Metodologi Penelitian Sosial Keagamaan pada tanggal 4 Desember 2013 di Ruang Senat IAIN STS Jambi, Mendalo, Jambi
[6] Laleno, Govar Arian, 2013, Peta Konflik dan Sumber Konflik Di Gorontalo, KESBANGPOL Prov. Gorontalo.
[7] Wawancara dengan T. Maritua di HTI tanggal 22 Desember 2013
[8] Saleh, Muhammad dan Qasim A. Ibrahim, 2014, Buku Pintar sejarah Islam. Hal 5
[9] Soekanto, Soerjono, 1993, Kamus Sosiologi, Jakarta, PT Raja  Grafindo Persada. h.283
[10] Wawncara dengan T. Nyenong di Sunagi Terap tanggal 15 Desember 2013.
[11] Zainuddin, 2009, Sistem Kekerabat Orang Rimba, Komunitas Konservasi Indonesia-WARSI, Jambi,  h. 6
[12] Sesudungon adalah rumah orang rimba yang dibuat dari kayu-kayu hutan mirip gubuk terbuka untuk petani yang menjaga sawah dari serbuan burung.
[13] Rombong adalah sekelompok orang rimba yang tinggal bersama di dalam satu tempat yang terdiri dari beberapa keluarga yang tinggal di sesudungon-sesudungon
[14] Melangun adalah migrasi satu rombong, yang mengalami duka cita karena salah seorang anggotanya meninggal dunia, dari satu tempat ke tempat yang lain di lingkungan Bukit 12.
[15] Prasangka orang rimba bahwa orang Islam merasa kasihan melihat babi dimakan oleh orang rimba pernah terjadi di India, ketika terjadi konflik berdarah antara orang Islam dan orang Hindu, dimana orang Islam memancing amarah orang Hindu dengan menyembelih sapi yang merupakan salah satu dewa di depan rumah-rumah orang hindu. Orang hindu menduga kaum muslimin tidak memakan babi karena babi adalah salah satu dewanya orang Islam, sehingga mereka mencoba menyembelih babi dan menancapkannya di pagar-pagar rumah orang Islam dengan niat memancing amarah. Ketika orang Islam marah dengan tindakan itu, mereka berfikir bahwa bahwa dugaannya benar.
[16] Orang rimbo memandang binatang peliharaan sebagai keluarga. Terbukti dari satu peristiwa tertabrakmatinya anjing orang rimba di daerah Kedundung Muda akan mengakibatkan denda adat sampai 500 keping kain—yang sekarang ini telah diuangkan menjadi empat s.d lima juta rupiah. Ditambah dengan upacara adat penguburannya yang bisa menghabiskan uang s.d dua juta rupiah.     
[17] Melanto sialong atau merapah artinya adalah memanen madu di pohon sialong
[18] Piawang adalah pawang lebah
[19] Merapah saat bulan terang apalagi siang hari tidak diperbolehkan, karena piawang akan diserang lebah jika merapah pada waktu-waktu tersebut. Cerita ini didapatkan melalui wawancara bersama Depati di Pos WARSI Sungai Dangku tanggal 18 Desember 2013
[20] Ditulis oleh Japarudin salah seorang peserta Short Course Metode Penelitian Sosial Keagamaan 2013 yang berasal dari IAIN Bengkulu.
[21] Pohon sialong adalah pohon yang sering digunakan lebah madu untuk bersarang. Antara lain pohon kedondong, kerewing, durian dan ulai.
[22] Pohon ini berada di kaki selatan Bukit 12. Berlokasi satu setengah jam perjalanan melalui rimba, dari sungai Dangku Besar menuju Sungai Terap. Sudah dua kali musim buah tidak menghasilkan madu.
[23] Sofiyudin adalah salah satu peserta Short Course Metodelogi Penelitian Sosial Keagamaan Jambi 2013 dari STAI Blora.
[24] Piliang, Amir Yasraf, 2012, Semiotika dan Hypersemiotika, Bandung, Pustaka Matahari. h.15
[25] Bebalas adalah sembahyang orang rimba yang dikerjakan selama dua atau tiga hari di atas balas (panggung yang luasnya 10 x 10 m2) yang mereka bangun tidak boleh lebih dari satu hari, menggunakan kayu-kayu pohon besar.
[26] Wawancara dengan T. Nyenong di Pos WARSI Sungai Dangku Besar tanggal 18 Desember 2013.
[27] Bepanji, Bilam (dua budak bujang), serta Margo Bungo dan Meriam m Bungo (dua anak-akak laki-laki kecil) dari rombong T. Nyenong di Sungai Terap yang kami ajak bermain game bebalas di Pos warsi Tanggal 19 Desember 2013
[28] Kupe dan kulup artinya anak perempuan dan anak laki-laki
[29] Induk dan bepak artinya ibu dan bapak
[30] Cewot adalah pakaian asli laki-laki rimbo berupa kain panjang yang diikatkan dipinggang seperti cawat
[31] Kemban adalah pakaian wanita rimbo berupa kain batik yang diikatkan diatas payudara sampai bawah ke lutut.
[32] Orang Rimbo tempo dulu menggunakan daun cikai untuk atap sudung mereka. Sejak perusahaan kayu berinteraksi dengan orang rimba pada tahun 1995, atas dasar rasa prihatin dengan keadaan anak-anak rimba yang masih kecil. Perusahaan menawarkan terpal untuk difungsikan sebagai atap sudung, supaya anak-anak tidak basah dan kedinginan saat hujan datang.
[33] Diceritakan oleh Jamhuri, orang dusun, yang membawa kami menuju pohon sialong di kaki selatan Bukit 12 tanggal 29 Desember 2013
[34] Wawancara dengan Bepanji dan Bilam di Sungai Terap tanggal 16 Desember 2013.
[35] Pak Zulkifli adalah orang dusun yang telah lama menjadi sahabat orang rimba sejak tahun 1976.
[36] Wawancara denag Depati di Pos Warsi Sungai Dangku tanggal 19 Desember 2013
[37] Soekanto, Soerjono, 1993, Kamus Sosiologi, Jakarta, PT Raja  Grafindo Persada. h.199
[38] Piliang, Amir Yasraf, 2012, Semiotika dan Hypersemiotika, Bandung, Pustaka Matahari. h.93
[39] VCD Kuliah Piliang, Amir Yasraf, 2012, Semiotika dan Hypersemiotika, Bandung, Pustaka Matahari yang ditulis kembali oleh Govar Arian Laleno, di Jambi tanggal 02 Desember 2013.
[40] Zainuddin, 2009, Sistem Kekerabat Orang Rimba, Komunitas Konservasi Indonesia-WARSI, Jambi, h. 9
[41] Dikisahkan Prof Muntolib (peneliti orang rimbo tahun 1993, yang kini menjadi guru besar di Fakultas Tarbiyah IAIN STS Jamabi) dalam acara coaching pelaporan penelitian tanggal 10 Januari 2014 di Aula Hotel Amanah, Jambi.
[42] Bakon adalah istilah WARSI dalam bentuk bahasa sandi antar sesama orang luar, berupa singkatan dari bahan kontak dalam bentuk oleh-oleh yang diberikan kepada para penghulu berupa kain dan rokok. Juga dalam bentuk roti dan bahan pokok lainnya seperti beras, mie, minyak atau garam untuk masyarakat rimba secara umum untu memperlancar hubungan. Sehingga mereka akan mudah memberikan pelayanan untuk keperluan para tamu.
[43] Sesalung adalah komunikasi jarak jauh, yang pesannya di teriakan dari satu rombong ke rombong lainnya. Bisa pesan berupa undangan atau panggilan. Bisa juga berupa pesan betino yang akan lewat ditempat yang ada jenton-nya atau sebaliknya. Upaya ini dilakukan untuk menghindari pertemuan antara mereka supaya tidak terjadi pelanggaran adat.
[44] Wawancara tanggal 19 Desember 2013 dengan Lidah Penado yang sudah sangat tua dan juga keluarga miskin yang merasa kebingungan untuk menikahkan anaknya Besilo karena sangat besarnya mas kawin yang diminta. Itulah yang membuat Besilo lebih memilih wanita dusun dari pada wanita rimba.